Kepala UPT SD 24 Macanang Protes Keras, Proyek Paving SD Inpres 12/79 Macanang, Minta Dibongkar.

SOMASINEWS.COM Bone, Sulsel 25 Januari 2026 Pembangunan paving block pelataran SD Inpres 12/79 Macanang dengan nilai anggaran sekitar Rp100.000.000 menuai protes keras dari Kepala UPT SD 24 Macanang.

Pasalnya, kedua sekolah tersebut berada dalam satu kawasan pekarangan dengan satu pagar yang membatasi dua sekolah, namun sebagian lokasi pembangunan justru masuk ke dalam area SD 24 Macanang.

Kepala UPT SD 24 Macanang secara tegas meminta pihak rekanan agar segera membongkar paving block yang terpasang di depan gedung perpustakaan SD 24 Macanang.

Ia menilai pekerjaan tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan sekolah, terutama ancaman banjir yang dapat merusak bangunan dan fasilitas pendidikan.

“Jika tidak segera dibongkar oleh pihak rekanan, maka saya akan membongkarnya sendiri,” tegas Kepala UPT SD 24 Macanang saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, terdapat dua persoalan mendasar dalam proyek tersebut. Pertama, pihak perencana dan pelaksana pembangunan SD Inpres 12/79 Macanang tidak melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan pihak UPT SD 24 Macanang, padahal lokasi pekerjaan sebagian berada dalam kawasan SD 24 Macanang.

Kedua, perencanaan dinilai tidak matang dan berpotensi mubazir anggaran karena pembangunan dilakukan pada area yang secara teknis tidak layak.

“Pelataran paving dibuat lebih tinggi dari lantai ruang kelas dan ruang perpustakaan. Ini jelas berisiko besar, karena ketika hujan deras turun, air akan mudah masuk dan menggenangi ruangan,” ungkapnya.

Menindaklanjuti pengaduan tersebut, LSM LATENRITATTA Melalui Ketua Umum Mukhawas Rasyid, S.H, M.H langsung melakukan pemantauan di lapangan dan melakukan klarifikasi ke pihak sekolah. Dari hasil pantauan, LSM Latenritatta menemukan sejumlah kejanggalan konstruksi teknis yang dinilai bertentangan dengan kondisi riil lokasi.
Pertama, di bagian depan gedung perpustakaan SD 24 Macanang, pelataran paving block terlihat lebih tinggi dibandingkan lantai ruang kelas. Perancang dinilai tidak melakukan pengerukan terlebih dahulu sebelum pemasangan paving, sehingga potensi masuknya air saat curah hujan tinggi sangat besar.

Kedua, di bagian belakang ruang kelas SD Inpres 12/79 Macanang, ditemukan tidak adanya saluran air. Area tersebut langsung dipasangi paving block tanpa sistem drainase yang memadai.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan genangan air yang dapat merembes masuk ke dalam ruang kelas dan merusak bangunan.

Ketiga, perencanaan proyek dinilai tidak didahului koordinasi dengan Kepala UPT SD 24 Macanang, sehingga apa yang dirancang oleh konsultan bertentangan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan sekolah.

Keempat, LSM LATENRITATTA malalui peran sertanya menilai pekerjaan tersebut tidak memenuhi spesifikasi teknis pekerjaan paving block, baik dari sisi perencanaan maupun pelaksanaan di lapangan. Hasil klarifikasi kepada ahli tekhnik bangunan.

Penulis : Amir Hafid

Pos terkait

Tinggalkan Balasan