Absennya Bissu di Momentum Hari Jadi Bone 692 Tanpa disadari Ciptakan Identitas Sedang diobok-obok

Suara Masyarakat Anti Diskriminasi

SOMASINEWS.COM BONE SULSEL, Magister Antropologi UGM dan Peneliti Bissu, Nilai, norma, moral, etika dan estetika adalah hasil perjalanan panjang sebuah bangsa. Hasil perjalanan itu kemudian membentuk tatanan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, hal itu juga terimplementasi dalam berbagai ekspresi gerak, wujud dan pola untuk mendapatkan berkah Sang Pencipta.

Beratus tahun orang-orang di tempat saya sudah terwarisi oleh warisan leluhurnya, person putih yang kemayu (bissu) membuat suatu perpaduan yang selaras dan identik, lalu hal identik itu nantinya akan menciptakan identitas. Di momentum Hari Jadi Bone (HJB) ke-692 serasa identitas itu sedang diobok-obok, jika dalam pandangan hukum, ini adalah kriminal dengan sangsi besar.

Bagaimana tidak, pencapaian Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone pada tahun 2011 telah sukses mendaftarkan tari Sere Bissu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dan pada tahun 2020 sudah mendapatkan penghargaan atas pencapaian itu. Turunan yang kemudian perlu dilakukan adalah pelestarian dan transmisi pengetahuan makna tari sere bissu dalam berbagai ruang kehidupan sosial masyarakat.

Namun, yang terjadi pada penghelatan Hari Jadi Bone ke-692 justru sama sekali tidak menampilkan para bissu sebagai pemeran utama dalam seluruh rangkaian upacaranya, mengapa ini bisa terjadi?

Mari kita ulas satu-satu. Pertama, dari beberapa situs media online melansir jika para bissu tidak enak hati karena merasa tidak ingin dilibatkan sebagai pengantar nampan (baki’) di hari H prosesi mattompang, tetapi pada prosesi malekke uwae dan pra-mattompang mereka bisa melaksanakan itu

Setelah saya mencoba untuk mendapatkan penuturan dari pihak bissu, mereka membeberkan jika memang mereka ditawari hanya ada di dua prosesi sebelum hari H. Sehingga pihak bissu kembali memberikan penawaran, jika mereka bisa untuk mengubah tampilan (memakai jas tutup) hanya untuk diberi kepercayaan membawa nampan tempat benda pusaka disimpan untuk diarak ke panggung.

Lalu, muncul pertanyaan mengapa mereka ditawari untuk tidak hadir di hari H? Mengapa pula mereka malah bersikukuh untuk membawa nampan?Siapa yang ingin disenangkan dalam HJB 692 ini? Ke mana pihak Dewan Adat/Pemda tidak menentapkan sikap untuk menghadirkan bissu? Untuk apa penghargaan WBTB yang selalu disebut sebagai pencapaian gemilang Dinas Kebudayaan? Bukankah ini memundurkan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan?

Bacaan Lainnya

Kedua, siapa juga yang berani menggantikan bissu dalam semua rangkaian upacara ini? Jika ia seorang budayawan, di mata saya dia tidak lebih seorang “buaya-wan” yang tidak mampu lepas dari krengkeng pemerintah atau sekalian saja dilabeli sebagai seorang budayawan pemerintah! Namun jika ia aktor, perannya sukses menghelat upacara tahunan yang mestinya sakral dan penuh dengan khidmat dari masing-masing hadirin.

Ketiga, dari sisi kajian sosial budaya yang ada di Sulawesi Selatan, Bone merupakan salah satu kerajaan besar di antara Gowa dan Luwu. Kerajaan Bone memegang peran penting sebagai representasi dari suku Bugis yang memiliki pandangan khas tentang bissu, saat ini bissu hanya ada di empat kabupaten yang diakui secara administratif pemerintahan. Namun, secara kultural empat kabupaten itu masih dalam rumpun yang sama, yakni Bugis.

Bone, Wajo, Soppeng dan Pangkep. Di titik ini, Bone menjadi sentral dan kiblat para bissu karena di sini mereka hidup dan berkeseharian di dalam Istana Kerajaan, walaupun sebenarnya di masing-masing tempat ini memiliki khasnya sendiri. Kembali dalam konteks Bone, prosesi mattompang arajang dahulu merupakan prosesi kerajaan dan dinikmati oleh kalangan tertentu saja.

Konteks ini kemudian berbeda dengan apa yang ada di Pangkep, yang basisnya sosial budayanya justru sangat lekat dengan masyarakat, begitu juga di Wajo dan Soppeng. Saking dekatnya beberapa upacara yang dilakukan oleh bissu langsung disponsori oleh masyarakat, berbeda dengan yang ada di Bone, karena mereka konsumsi elite, makanya juga elite sangat berperan penting atas apa yang ditampilkan pada mattompang arajang.

Absennya bissu dalam prosesi Hari Jadi Bone 692 tanpa disadari akan memberikan banyak dampak kepada setiap lapisan di dalam masyarakat, dengan sendirinya pengakuan atas elite akan goyang karena ulahnya sendiri yang dengan brutal meniadakan peran bissu. Sementara di sisi lain, hadirnya budayawan mestinya mengambil peran pada porsinya masing-masing, sebab menggantikan peran bissu dalam beberapa kegiatan adalah perbuatan paling berengsek yang pernah ada! (*)

Pos terkait